Make your own free website on Tripod.com

Kisah dan Cerita

Home

Kasih Kristus | Cangkir Yang Cantik | Mama Tersayang | Hidup Memang Perjuangan | Kado Natal | Ketika Langit Berwarna Jingga
Ketika Langit Berwarna Jingga

by : Romy Mamahit

Aku baru saja hendak memejamkan mataku saat itu , akan tetapi sangat sukar rasanya membuang pikiran yang tengah hinggap di kepalaku. Sedemikian beratnya hingga membuat aku gelisah dan susah tidur. Masih terngiang dikepalaku ucapan Ira tadi siang di Kafe seberang kampus.
Mas Hendra , aku sudah pikirkan semua ini ! katanya
Ada apa ra ? tanyaku. Sorot matanya sayu seolah tak bersemangat dan itu tak seperti biasanya. Kelihatannya ia sangat sedih.
Mas aku mencintai kamu!
Aku juga ra sahutku
Walaupun enggan rasanya bagiku untuk berpisah dengan Mas, tapi seperti kataku tempo hari , kita harus mengahkiri semua ini , Mamaku nggak setuju hubungan kita selama ini ! katanya kemudian. Sebulan yang lalu ia pernah sepintas mengatakan hal ini kepadaku. Aku tidak menanggapinya secara serius karena selama ini ia tidak pernah seperti itu. Seketika aku menghentikan acara makanku. Kafe saat ini sedang sepi . Cuma ada kami berdua dan dua orang pengunjung lainnya yang duduk agak jauh. Sengaja kami memilih tempat sepi karena Ira mengatakan dia ingin membicarakan hal yang penting dengan aku. Kamu serius ra? tanyaku lagi sambil menatapnya.
Iya Mas jawabnya
Aku nggak nyangka kalau ahkirnya seperti ini , kukira ucapan kamu tempo hari cuma main main Ira tersenyum kecut menatapku.
Aku juga nga nyangka Mas ,tapi kuharap Mas bisa menerima semua ini demi kebaikan kita
Aku menerima jika seandainya kamu bisa merasa lebih bahagia, meskipun terus terang berat untuk melepaskan kamu kataku
Terima kasih Mas, Aku juga sebenarnya berat untuk berpisah , tapi dilain pihak aku nggak ingin mengecewakan mereka Ujarnya.
Hmmm..orang tua memang kadang susah dimengerti ra , hanya saja bagaimanapun mereka toch ingin anaknya hidup bahagia
Entahlah tapi Mas kelihatannya kecewa..?
Sudah pasti aku kecewa..setelah apa yang kita alami bersama.
Waktu seolah bergulir lambat.Perasaan yang aku alami saat itu sangat serba tidak menentu semuanya terasa suram. Kulihat sikap Ira juga serba salah.Gadis itu kelihatan sangat sedih. Akupun tak jauh beda. Setelah beberapa saat lamanya kami terdiam. Aku menatapnya lagi gadis itu tertunduk.
Tapi kita masih bisa bersahabat kan , ra? Ujarku tiba tiba.
Mas......, Ira meraih tanganku dan menggenggamnya.
Aku tak bisa melupakan kamu Mas katanya. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku juga..ra Sahutku .
Kita berpisah..tapi kenangan kita tak akan mungkin terlupakan
Iya Masaku juga nggak mungkin lupa sama Mas!
Aku harap kamu bisa bahagia , aku nggak tega lihat kamu menderita , satu lagi jaga diri kamu baik baik dan jangan pernah lupa berdoa nasehatku
Iya Mas , aku juga berharap Mas juga begitu. Katanya penuh harap.
Ketika jarum jam menunjuk pukul dua siang. Ahkirnya kami pun berpisah. Berpisah ke rumah masing-masing dan berpisah untuk selamanya. Perasaanku lagi nggak keruan , begitu meninggalkan kampusku di daerah depok. Motorku kupacu kencang-kencag nggak perduli rantainya bakalan putus.


Karena tidak bisa tidur aku bangkit berdiri dan menyetel kompo kesayanganku, sengaja kupilih lagu When youre gone nya Cranberries. Suaranya Dolores Oriordan menemani aku sore ini Aku lalu menatap photo Ira dalam genggamanku. Aku larut dalam keharuan membayangkan semua yang pernah kualami bersama Ira. Yang pasti semua tak akan sama lagi. Yah sejak tadi sepulang kuliah aku mengurung diri dalam kamar. Mencoba merenungkan apa yang baru saja kualami hari ini. Kisah cintaku bersama Ira baru saja usai. Setelah berjalan kurang lebih dua tahun. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya. Waktu ospek Mahasiswa dua tahun yang lalu. Tak lama setelah itu kami jadian hingga tadi siang di Kafe tadi.
Banyak suka duka yang kami alami dan yang jelas aku sangat bahagia pernah mencintai seorang gadis yg bernama Ira. Ira Puspitasari namanya. Ira sekampus dengan aku. Aku seniornya. Aku kini duduk di semester 5. Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma dan Ira semester 3 Fakultas yang sama. Ira gadis yang periang , nggak pernah murung dan selalu menyenangkan. Ia juga perhatian dengan hal hal yang sepele. Ia juga sayang sama orang tuanya khususnya dengan ibunya. Hal mana yang membuat ia enggan mengecewakan mereka. Sejak aku jadian sama Ira orang tuanya memang kurang mendukung, jika aku datang ke rumah Ira. Sikap mereka terkesan dipaksakan. Orang tua Ira memang kaya. Bapaknya sukses sebagai pengusaha textil. Sedangkan Ibunya juga sukses dalam Asuransi jiwa. Aku juga tidak pernah membayangkan jika Ira anak pengusaha kaya. Dalam kesehariannya gayanya terkesan biasa saja. Aku sendiri dari kalangan menengah. Ayahku pegawai swasta meskipun jabatannya manager.Ibuku tak bekerja. Ayahku tidak mengijinkannya bekerja. Rumahku juga nggak sebesar rumah Ira. Tapi aku bangga kok dengan keadaanku. Aku tak suka mengeluh. Menerima hidup ini apa adanya. Karena aku sadar segala sesuatu itu datang dari Yang Maha Kuasa. Ira juga nggak pernah mempersoalkan statusku. Hanya saja Ia tidak berani menentang orangtuanya. Lagipula aku sendiri menyadari jika suatu saat hal ini bisa terjadi. Tidak cukup dengan mengeluh atau mempersoalkan semua ini. Orang tua memang mesti kita hormati.Pemikiran orang tua terkadang susah dimengerti orang muda. Meskipun pada dasarnya mereka toh ingin anaknya hidup bahagia.


Aku melirik jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul lima sore lebih. Karena tak bisa tidur melangkah keluar dari kamar. Dengan berpakaian seadanya aku berjalan meyusuri kompleks perumahan di tempat aku tinggal .Aku lalu berhenti di jalan samping perumahan . Didaerah Bekasi ini perumahan seperti di tempatku terkadang masih menyatu dengan alam. Hamparan sawah dengan padi yang menghijau dengan perumahan tempat aku tinggal hanya di batasi dengan sebuah jalan kecil.
Ah betapa indah.alam ini.Ciptaan Tuhan memang begitu indah. Sejenak aku lupa dengan persoalan yang tengah kuhadapi. Aku begitu menikmati suasana senja itu. Tak lama kemudian langit pun kemerah merahan. Lukisan awan jingga mulai memayungi langit. Sebentar lagi malam datang. Ah sungguh menyentuh. Perjalanan masih panjang yang pasti mulai besok aku mulai membuka lembaran baru , tanpa Ira yang selama ini mengisi hatiku. Ia memang kini masih jadi temanku tapi jujur saja aku memang merasa kehilangan. Namun bagaimanapun kehidupan terus berjalan. Aku hanya berharap masih ada kebahagiaan untukku


Langit jingga kemerahan di waktu itu
Hiasi cakrawala senja
Saat mentari hendak berangkat pulang
Saat hati di rajam gundah gulana
Senja ketika ketika engkau berlalu

Ketika malam hendak menjelang
Ketika hati sedang kecewa
Ternyata semuanya harus berahkir
Dan kini aku akan melalui hari har tanpamu
Satu harapku , masih ada hari esok untukku


( end of story )
@copy right by romy2001

Dedikasi utk anak-anak TI Universitas Gunadarma
Angkatan 1994

Catatan :
Kisah , tokoh dan kejadian dalam cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan iitu hanya kebetulan belaka.



Enter supporting content here